Data Kekeringan Di Kabupaten Purworejo Berbeda

image_pdf

Hampir semua wilayah di Jawa Tengah terjadi kekeringan ekstrem selama beberapa bulan terakhir. Bahkan sampai berita ini ditulis, belum ada tanda-tanda hujan mau turun. Daerah-daerah di sepanjang Pantai Selatan Jawa Tengah, Pantura, Wonogiri, Karanganyar selama lebih dari 100 hari terakhir tidak turun hujan sama sekali. Dalam kondisi kekeringan ekstrem dan tidak ada “ awan hujan “, praktis hujan buatan tidak dapat dilakukan.

Reni Kaningtyas, Kepala Seksi Data dan Informasi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Jawa Tengah mengungkapkan, hampir semua wilayah di Jawa Tengah selama lebih dari 60 hari tanpa hujan sama sekali. Daerah yang terpantau sesekali masih turun hujan hanya di Jawa Tengah bagian tengah, yakni Banyumas dan sekitar Gunung Slamet. Menurut perkiraan, baru pada akhir Oktober atau awal November “awan hujan” mulai muncul mengawali datangnya musim hujan. “ Jika tidak ada awan hujan, bagaimana NaCI ( garam ) bisa disebar ?” ujarnya.

Sarwa Pramana, Kepala Penanggulangan Bencana Daerah ( BPBD ) Jawa Tengah menuturkan kalau BPPD seluruh Jawa Tengah sekarang berkonsentrasi pada penanganan tanggap darurat guna mengatasi kekeringan. Guna mengatasi kekeringan, Jawa Tengah menerima bantuan sebesar Rp 9,5 milyar dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Dana itu digunakan untuk pembuatan embung dan sumur bor. Dua kabupaten yang paling terdampak pada kekeringan yakni Wonogiri dan Klaten.

Berbeda Data.

Sementara itu di Kabupaten Purworejo yang merupakan lumbung padinya Jawa tengah, kekeringan mulai terasa sejak menjelang musim panen MT 2. Akibatnya, sejumlah wilayah tidak dapat panen secara normal. Ada wilayah yang masuk katagori dapat panen namun kurang air bahkan ada pula yang gagal panen ( puso ). Namun yang membingungkan, dua instansi yang menangani telah menyajikan data berbeda tentang luasnya areal gagal panen (puso). Dinas Pertanian, Peternakan, Kelautan dan Perikanan (DPPKP) dalam jumpa pers yang dilakukan di Ruang Bagelen, Setda Purworejo, mengutarakan kalau wilayah gagal panen (puso) terdapat di enam kecamatan dengan luas mencapai 467 Ha. Wilayah terluas gagal panen di Kecamatan Purworejo yang mencapai 210 Ha dan terkecil di wilayah Kecamatan Bener yang hanya enam hektar. Menurut DPPKP, kekeringan terjadi akibat pemanasan global  dan lahan tangkapan air berkurang.

Tetapi data dari Dinas Pengairan Kabupaten Purworejo per 31 Agustus 2015 yang merupakan data terakhir MT2, menunjukkan bahwa wilayah gagal panen ( puso) mencapai 560 Ha. Artinya, wilayah puso dari Dinas Pengairan lebih luas 100 Ha dari data yang ada di DPPKP. Dengan perbedaan data yang cukup besar , menimbulkan pertanyaan, dinas mana yang mampu menyajikan data paling akurat ? Kenapa terjadi selisih hingga seluas itu ? Lalu bagaimana cara menghitung dari masing-masing dinas sehingga terjadi perbedaan luas areal puso ? Sedang areal puso merupakan areal riil yang menyangkut kehidupan petani. Sehingga kurang layak bila cara menghitungnya hanya serampangan.

Joko Wagiyono, Kepala Bidang Irigasi Dinas Pangairan Kabupaten Purworejo ketika dimintai konfirmasinya menegaskan kalau luas areal gagal panen ( puso ) di wilayahnya mencapai 560 Ha yang tersebar di 21 Daerah Irigasi (DI). Wilayah terluas mengalami gagal panen di DI Kedung Putri yang mencapai 271 Ha. Dirinya yakin, data tersebut benar karena untuk melayani kebutuhan air petani menjelang musim panen MT2, selalu dilakukan oleh Mantri Pengairan siang malam. Masing-masing Mantri harus membuat laporan lengkap 15 hari sekali. Dari debet air yang ada, kemudian disesuaikan dengan luas areal yang membutuhkan, pasti dapat dihitung luas areal yang tidak dapat terlayani sepenuhnya hingga terjadi gagal panen.” Ujarnya.” Karena sudah ada rumusan pasti mengenai kebutuhan air untuk mengelola padi sejak ditanam hingga menjelang panen. Tanggal 31 Agustus merupakan hari terakhir penghitungan luas wilayah sehingga sudah terdapat angka pasti mengenai wilayah yang berhasil panen normal, kekurangan air namun dapat panen serta wilayah puso.”

DPPKP juga mengakui kalau dinasnya dengan dinas lain ada penghitungan berbeda karena ada perbedaan definisi dalam penghitungan. Tetapi jika muncul perbedaan yang cukup mencolok layak dipertanyakan mengenai keakuratannya.

Watujagir,

Joko Wagiyono juga mengungkapkan kalau persoalan pengairan memang cukup banyak. Sebab air merupakan kebutuhan utama bagi petani. Apalagi Kabupaten Purworejo dikenal sebagai daerah agraris dan lumbung padinya Jawa Tengah. Untuk memantau persoalan air memang ada daerah yang harus ditangani lebih dari daerah lain karena terjadi kasus pengairan yang cukup serius. Seperti saat ini Dinas Pengairan sedang berupaya menangani DI Watujagir, di wilayah Kecamatan Bruno. DI tersebut bermanfaat untuk mengoncori sawah seluas 215 Ha dan Saluran Sekunder Watujagir  mengoncori  Desa Blimbing serta Kaliwungu dibutuhkan untuk mengairi 72 Ha sawah . Sampai tahun 1982 Saluran Sekunder Watujagir berjalan normal. Tetapi akibat degradasi dan sifat sungai yang aneh, kini saluran tidak berfungsi sama sekali.  DI Watujagir mengandalkan air dari Sungai Brengkok. Sungai tersebut mempunyai perilaku aneh yakni, aliran sungai dalam tempo sekejap bisa berpindah. Sering sekali aliran Sungai Brengkok pindah Dapat saja, tanah datar dan kering yang semula agak jauh dari aliran sungai, dalam tempo sekejap mendadak berubah jadi daerah aliran sungai. Sedang daerah yang semula jadi aliran sungai berubah menjadi kering. Sifat sungai seperti itu yang sering membingungkan warga,” ujar Joko Wagiyono.

Akibat tidak berfungsinya Saluran Sekunder Watujagir yang mengakibatkan 72 Ha sawah  tidak bisa mendapat suplisi air, akhirnya masyarakat membuat usulan untuk dibangun checkdam di Sungai Bengkok kiri. Harapannya, tahun 2016 sudah diadakan review desain dan tahun 2017 pelaksanaan pembangunan fisik sudah terealisasi. Sebab ceckdam itu sangat dibutuhkan  petani di Blimbing dan Kaliwungu. Usulan sudah disepakati oleh Ketua GP3A DI Watujagir, Ketua P3A Desa Blimbing (Kabupaten Wonosobo), Ketua P3A Desa Kalikarung dan  diperkuat oleh Balai PSDA Progo, Bogowonto dan Lukula, PPL Kecamatan Bruno serta Dinas SDA/ ESDM Kabupaten Purworejo.

Baik diketahui, DI Watujagir terletak di perbatasan wilayah Kabupaten Purworejo dan Wonosobo. Manfaat airnya untuk petani di dua kabupaten tersebut. (AD/berbagai sumber)

Komentar